KORANJURI.com - Kehidupan Tapal Batas Indonesia-Timor Leste KORANJURI.com - Kehidupan Tapal Batas Indonesia-Timor Leste

HOME | Mimbar | Delik | Rekam Kejadian | Pendidikan | Ekbis | Hiburan | Distrik Wisata | Seni Budaya | Akselerasi | Mail Contact | Foto




1 2 3 4



Kehidupan Tapal Batas Indonesia-Timor Leste


06 September 2013 | Koranjuri.com

Kehidupan Tapal Batas Indonesia-Timor Leste
KORANJURI.COM Menjaga tapal batas antara dua negara tidak selalu diwarnai ketegangan dan kontak senjata. Meski tetap mewaspadai kemungkinan terjadi konflik yang bisa kapan saja terjadi. Komandan Satgas Yonif Linud 503/Mayangkara Letkol Inf Freddino Janen Silalahi, menceritakan kehidupan tapal batas sebelum mengakhiri tugasnya beberapa waktu lalu.

Freddino mengatakan, selama ini pihaknya menjaga kerjasama untuk menghindari konflik tapal batas antara Satgas Pamtas RI dan Unidade Patrolha de Fronteira (UPF) negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Kita sendiri secara intern melakukan patroli dua kali seminggu di daerah-daerah sengketa,"  tuturnya.

Dikatakan lagi, selama bertugas di perbatasan, pada umumnya keamanan sangat kondusif. Tentara yang bertugas di tapal batas negara menurutnya bukan semata kedaulatan NKRI tapi juga membangun wilayah di daerah perbatasan.

Pembangunan non fisik, kami memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat. kegiatan fisik kami bersama masyarakat membangun rumah sederhana layak huni dan membuka jalan baru," kata Freddino saat berpamitan dengan warga perbatasan RI-Timor Leste beberapa waktu lalu.

Hubungan budaya antara  masyarakat Indonesia dan Timor Leste di perbatasan khususnya Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU) sangat baik. Keduanya berasal dari latarbelakang sama, memiliki budaya dan kearifan lokal yang sama. Mereka bersaudara hanya beda negara.

Freddino menjelaskan, pemerintah kedua negara ini juga mempermudah warga di kedua tapal batas dengan memberikan pass lintas batas yang bertujuan saling mengunjungi satu sama lain dalam waktu tertentu.

Sebagai saudara, kata Freddino, warga di kedua Negara terikat oleh tradisi maupun upacara adat seperti kematian, pernikahan dan upacara yang terkait keluarga besar. Itu menjadi perjalanan tradisi menembus tapal batas dua negara.

Kedua masyarakat itu memiliki kearifan lokal budaya yang sama dan menganut kepercayaan yang sama pula, kata Freddino.

Sementara, perwira hukum Satgas Pamtas Yonif Linud 503 Kostrad Lettu Chk, Danu Mardhika, mengisahkan, TNI bukan hanya bertugas sebagai satuan tugas pengamanan di wilayah perbatasan tapi juga melakukan pengawasan karantina tumbuhan.

Satgas Pamtas juga memiliki wewenang menghentikan aktivitas ekspor/impor ilegal di sepanjang perbatasan yang bukan merupakan pas lintas batas (PLB) termasuk komoditi pertanian, tutur Danu.


Kontributor Kupang, NTT: Cyriakus Kiik